Kampoeng Arab

Komunitas Jammaah Indonesia

Thursday, Sep 09th

Last update:04:24:06 AM GMT

You are here: Tokoh Arab Modern Anies Baswedan 100 Intelektual Dunia

Anies Baswedan 100 Intelektual Dunia

E-mail Print PDF
JAKARTA (SINDO) — Intelektual muda Anies Baswedan masuk jajaran 100 intelektual dunia versi jurnal terkemuka Amerika Serikat (AS), Foreign Policy.

Anies yang kini menjabat rektor Universitas Paramadina itu disejajarkan dengan tokoh dunia seperti Lee Kuan Yew (menteri mentor Singapura), Francis Fukuyama (ilmuwan AS), Al Gore (aktivis lingkungan, mantan Wakil Presiden AS), Muhammad Yunus (peraih Nobel Perdamaian), dan beberapa tokoh besar dunia.

Dari 100 daftar intelektual dunia yang sudah disusun, jurnal terbitan Carnegie Endowment for International Peace, Washington, AS, ini mempersilakan publik memilih intelektual terbaik hingga batas terakhir 15 Mei.Dari hasil pilihan publik, 20 daftar intelektual terbaik akan dipublikasikan pada jurnal edisi Juli/Agustus mendatang.

Dari daftar 100 intelektual terbaik, perinciannya 36 berasal dari Amerika Utara, 30 dari Eropa, empat dari Amerika Latin,11 dari Timur Tengah,empat dari Afrika,12 dari Asia,dan hanya tiga dari Asia Tenggara dan Oseania. Anies Baswedan mengaku sama sekali tidak mengira namanya masuk dalam daftar intelektual dunia versi Foreign Policyini.


“Saya kanbaru belajar, belum ada apa-apanya dengan mereka,” kata Anies kepada SINDO kemarin. Kendati begitu,mantan Ketua Senat Mahasiswa UGM ini mengaku senang dengan nominasi tersebut. Penomina siannya menunjukkan Indonesia memiliki potensi intelektual yang sama dengan negara lain di dunia. Anies mengaku memiliki obsesi yang kuat untuk menjadi seorang intelektual berkelas internasional.

Dia memercayai keinginan seperti ini bukan hal yang mustahil. Bangsa Indonesia,lanjut dia,sebenarnya sudah memiliki tradisi intelektual yang panjang.Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Sjahrir,Agus Salim, dan lainnya pernah tersohor di kalangan internasional.” Saya ingin tokoh-tokoh intelektual kita juga kembali muncul sebagaimana mereka,” tandasnya.

Sehubungan dengan nominasi ini, dia mengaku belum pernah dihubungi pihak Foreign Policy. Jurnal itu merupakan salah satu yang berpengaruh di AS.Tulisan yang diturunkan selalu bersikap kritis dengan kebijakan Presiden AS George W Bush dan berseberangan dengan kelompok konservatif.”Saya sering menulis artikel yang mengkritik langkah Bush dalam memerangi terorisme di penerbitan internasional, “ungkapnya.

Menurut dia,jurnal itu secara rutin menggelar nominasi 100 intelektual dunia. Dari jumlah tersebut nantinya akan dipilih 20 nominator.”Masuk 100 saja sudah cukup mengagetkan,” tandasnya. Kendati tidak mengetahui secara persis kriteria pemilihan, dia menegaskan hal ini bisa menjadi tonggak kebangkitan kembali tradisi intelektual di Tanah Air.

Bagi dia, sebenarnya di dalam negeri cukup banyak potensi kaum muda. Karena itu ke depan dia mengajak kalangan intelektual lain untuk saling berbagi dan berkompetisi menyuburkan tradisi akademik. Salah satunya melalui publikasi artikel di media internasional. Terhadap masuknya Anies ke dalam daftar 100 intelektual dunia, anggota Yayasan Paramadina Utomo Dananjaya menilai hal itu sebagai bukti pemuda Indonesia bisa disejajarkan dengan pemikir dan tokoh tenar dunia.

Momentum tersebut harus menjadi semangat kebangkitan pemuda Indonesia untuk lebih kreatif dalam berpikir. “Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, 40% di antaranya adalah pemuda. Jadi, ada sekitar 100 juta pemuda Indonesia yang berpotensi menjadi intelektual, pemimpin, atau tokoh nasional, bahkan dunia,” ujar Utomo di Jakarta kemarin.

Senada dengan Utomo, Direktur Eksekutif Soegeng Sardjadi Syndicate Sukardi Rinakit melihat potensi kaum muda Indonesia terbilang besar. Dari bidang ilmu apa pun, anak muda Indonesia tidak kalah bersaing dengan kaum muda negara lain. “Di bidang apa pun, semuanya berpotensi,”katanya kepada SINDO tadi malam. Apalagi, kaum muda Indonesia tergolong aktif dalam menyuarakan aspirasi.

Tidak mengherankan bila organisasiorganisasi kepemudaan ramai dimasuki darah-darah muda yang memiliki intelektual dan kapabilitas yang mumpuni. Sukardi mengungkapkan, anak muda Indonesia juga memiliki rasa demokratis yang luar biasa tinggi.

Proses kejatuhan Orde Baru dan munculnya era reformasi menjadi tonggak sejarah kaummuda menggalang kekuatan. “Tidak di semua negara anak mudanya seperti itu. Di sini,demo di mana-mana.Coba lihat di Malaysia atau Singapura, jarang-jarang ada demo,”ungkapnya.

Kemunculan tokoh-tokoh muda yang berpotensi akhirakhir ini, ujar Sukardi, tergolong terlambat. Padahal, potensi besar kaum muda Indonesia sudah terlihat dari dulu. Utomo Dananjaya menambahkan, pemuda Indonesia harus diberi ruang lebih luas sehingga kemampuannya bisa dicurahkan secara optimal. Anies Baswedan, kata dia, hanyalah salah satu intelektual muda nasional yang mampu merangsek masuk ke jajaran tokoh kelas dunia.

“Selain Anies, tentu masih banyak pemuda Indonesia yang memiliki pemikiran cerdas, kreatif, sekaligus arif,” tegasnya. Anies dikenal sebagai salah satu rektor termuda di Indonesia. Pria kelahiran 7 Mei 1969 itu lulus sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum meraih gelar master dari University of Maryland,School of Public Policy, College Park, AS. Gelar Doktor didapatnya dari Northern Illinois University, Department of Political Science,DeKalb,Illinois,AS. (rendra hanggara/ mohammad sahlan/ chamad hojin)
Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy